Dua Tipe Rel Suriah


Kereta Hijaz yang pernah menjadi simbol kejayaan transportasi Islam pada awal abad ke-20 kini praktis tidak lagi berfungsi sebagai jalur kereta aktif di wilayah Suriah. Jalur bersejarah ini hanya menyisakan potongan-potongan rel, bangunan stasiun tua, dan memori panjang tentang proyek ambisius Kekaisaran Utsmani.

Kereta Hijaz dibangun pada periode 1900 hingga 1908 di bawah Sultan Abdulhamid II. Jalur ini dirancang menghubungkan Damaskus dengan Madinah untuk mempermudah ibadah haji sekaligus memperkuat kontrol politik Utsmani atas wilayah Arab.

Di Suriah, Damaskus menjadi simpul utama Kereta Hijaz. Dari kota inilah kereta melaju ke selatan menuju Yordania dan Hijaz. Namun sejak awal abad ke-20, jalur ini sudah menghadapi berbagai gangguan besar.

Perang Dunia I menjadi titik awal keruntuhan operasional Kereta Hijaz. Pemberontakan Arab yang didukung Inggris menjadikan jalur kereta ini sasaran sabotase strategis, karena dianggap tulang punggung logistik Utsmani.

Setelah runtuhnya Kekaisaran Utsmani, jalur Hijaz di Suriah kehilangan pelindung politik dan finansialnya. Pemerintah kolonial Prancis tidak menjadikannya prioritas karena rel ini menggunakan ukuran sempit dan tidak cocok untuk kebutuhan ekonomi kolonial.

Akibatnya, sejak 1920-an, Kereta Hijaz mulai ditinggalkan secara bertahap. Operasi reguler berhenti, perawatan terabaikan, dan banyak bagian rel mulai rusak atau dibongkar.

Memasuki era negara Suriah modern, fokus pembangunan rel dialihkan ke jalur baru berstandar internasional. Jalur Hijaz dianggap tidak efisien untuk angkutan barang berat maupun transportasi massal modern.

Hingga sebelum perang Suriah 2011, tidak ada layanan penumpang atau barang rutin di jalur Hijaz klasik. Jalur ini secara praktis sudah berstatus tidak aktif, meski fisiknya masih dapat ditemukan di beberapa lokasi.

Perang Suriah memperparah kondisi tersebut. Infrastruktur yang tersisa mengalami kerusakan tambahan akibat konflik, penjarahan, dan ketidakstabilan keamanan.

Saat ini, tidak ada satu pun layanan kereta aktif di Suriah yang benar-benar menggunakan jalur Hijaz klasik sebagai rute utama. Relnya tidak terhubung dengan jaringan kereta nasional modern.

Stasiun Kereta Hijaz Damaskus masih berdiri megah dan menjadi ikon arsitektur kota. Namun fungsinya lebih sebagai bangunan bersejarah, bukan pusat transportasi aktif.

Bangunan stasiun tersebut sering dipandang sebagai simbol masa lalu, bukan bagian dari sistem logistik masa kini. Aktivitas kereta di sekitarnya sangat terbatas dan bersifat non-komersial.

Meski demikian, jejak Kereta Hijaz tetap memiliki nilai politik dan simbolik. Ia sering diangkat sebagai lambang persatuan dunia Islam dan kemandirian teknologi pada masanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul wacana pemulihan jalur Kereta Hijaz. Suriah, Turki, dan Yordania disebut-sebut pernah membahas kemungkinan rehabilitasi jalur bersejarah ini.

Namun rencana tersebut masih berada pada tahap konseptual. Belum ada bukti proyek besar yang benar-benar menghidupkan kembali Kereta Hijaz di Suriah sebagai jalur operasional.

Pemulihan jalur ini menghadapi tantangan besar, mulai dari biaya, perbedaan lebar rel, hingga kondisi politik kawasan. Jalur sempit Hijaz tidak kompatibel dengan rel modern.

Karena itu, kemungkinan Kereta Hijaz beroperasi kembali seperti masa lalu dinilai sangat kecil. Jika pun direvitalisasi, fungsinya lebih mungkin sebagai kereta wisata atau situs sejarah.

Di beberapa negara lain, bekas jalur Hijaz memang masih digunakan secara terbatas. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Suriah secara penuh dan berkelanjutan.

Bagi pemerintah Suriah, prioritas transportasi saat ini adalah jalur standar yang mendukung logistik nasional, bukan rel bersejarah yang membutuhkan investasi besar.

Dengan demikian, Kereta Hijaz di Suriah lebih tepat dipahami sebagai warisan sejarah daripada sistem transportasi aktif. Ia hidup dalam ingatan dan bangunan, bukan dalam roda yang berputar.

Kereta Hijaz mungkin telah berhenti lama, tetapi kisahnya tetap berjalan sebagai bagian penting dari sejarah Timur Tengah dan Suriah.

Dua Warisan Rel Suriah

Suriah memiliki sejarah perkeretaapian yang unik karena dibangun oleh dua kekuatan berbeda pada dua masa yang berbeda pula. Hingga kini, jejaknya masih terlihat jelas dalam bentuk dua jenis rel dengan fungsi, ukuran, dan tujuan politik yang tidak sama.

Jenis pertama adalah Kereta Hijaz, warisan Kekaisaran Utsmani yang dibangun pada awal abad ke-20. Jalur ini dirancang untuk menghubungkan Damaskus dengan wilayah selatan menuju Yordania dan Madinah, dengan tujuan utama melayani jamaah haji serta memperkuat kontrol Utsmani atas kawasan Arab.

Kereta Hijaz menggunakan rel sempit, sekitar 1.050 milimeter, yang mencerminkan kebutuhan militer dan geografis saat itu. Rel sempit dianggap lebih murah, cepat dibangun, dan cukup untuk medan gurun serta jalur panjang yang tidak berorientasi pada angkutan industri berat.

Namun sejak Perang Dunia I dan runtuhnya Kekaisaran Utsmani, fungsi Kereta Hijaz di Suriah terus menurun. Jalur ini tidak lagi menjadi tulang punggung transportasi dan kini hanya tersisa sebagai peninggalan sejarah dengan stasiun ikonik di Damaskus.

Jenis rel kedua di Suriah lahir pada masa Mandat Prancis setelah 1920. Berbeda dengan Hijaz, jalur ini dibangun dengan orientasi ekonomi kolonial dan menghubungkan pelabuhan Mediterania, terutama Lattakia, dengan kota-kota pedalaman seperti Homs, Hama, dan Aleppo.

Rel buatan Prancis menggunakan lebar standar internasional 1.435 milimeter. Pilihan ini memungkinkan pengangkutan barang berat seperti gandum, kapas, dan hasil industri dari pedalaman ke pelabuhan untuk ekspor.

Jalur pelabuhan–pedalaman ini menjadi fondasi utama jaringan kereta Suriah modern. Setelah kemerdekaan, negara Suriah mewarisi dan mengembangkan jalur standar ini sebagai tulang punggung logistik nasional.

Perbedaan dua rel tersebut sangat mendasar dan tidak kompatibel satu sama lain. Kereta Hijaz tidak dapat langsung terhubung dengan jaringan rel buatan Prancis karena perbedaan lebar rel dan standar teknis.

Dalam praktiknya, rel Hijaz perlahan tersisih dari sistem transportasi aktif, sementara rel standar peninggalan Prancis tetap digunakan hingga kini, termasuk untuk angkutan gandum yang baru-baru ini kembali beroperasi setelah terhenti lama akibat perang.

Dua jenis rel ini mencerminkan dua era dan dua visi berbeda tentang Suriah. Yang satu lahir dari proyek religius dan simbol politik Utsmani, sementara yang lain tumbuh dari kepentingan ekonomi kolonial dan kemudian menjadi dasar negara Suriah modern.

Kereta pelabuhan

Kereta pengangkut gandum di Suriah tercatat berhenti beroperasi hampir 15 tahun lamanya akibat rangkaian faktor besar yang berkaitan langsung dengan perang Suriah sejak 2011. Jalur ini semula menjadi salah satu tulang punggung distribusi pangan nasional sebelum konflik bersenjata melumpuhkan hampir seluruh sistem transportasi negara.

Lintasan kereta yang menghubungkan Lattakia, Hama, Homs, hingga Aleppo berubah menjadi wilayah konflik terbuka selama bertahun-tahun. Jalur tersebut melewati daerah yang silih berganti dikuasai kelompok bersenjata dan kerap menjadi garis depan pertempuran, sehingga mustahil dipertahankan sebagai jalur logistik aman.

Dalam kondisi tersebut, infrastruktur rel mengalami kerusakan serius. Jembatan dihancurkan, stasiun terbengkalai, dan sebagian rel bahkan dibongkar lalu dicuri untuk dijual sebagai besi tua. Kerusakan fisik ini membuat jaringan kereta praktis terputus.

Masalah keamanan menjadi faktor utama terhentinya operasi. Kereta barang, terutama yang membawa gandum, dipandang sebagai target strategis karena menyangkut kebutuhan hidup penduduk. Risiko serangan, penjarahan, dan ancaman terhadap keselamatan masinis serta petugas membuat pengoperasian kereta tidak lagi memungkinkan.

Di sisi lain, sanksi Barat memperparah kondisi sektor perkeretaapian. Akses terhadap suku cadang dan peralatan teknis menjadi sangat terbatas, sementara kemampuan negara untuk merawat dan memperbaiki sistem rel menurun drastis. Prioritas anggaran pun beralih ke kebutuhan militer dan kondisi darurat.

Akibat kombinasi perang dan sanksi, transportasi rel di Suriah nyaris mati total. Negara kehilangan kemampuan mengoperasikan sistem angkutan massal yang sebelumnya relatif efisien dan murah untuk distribusi barang kebutuhan pokok.

Selama bertahun-tahun konflik, pemerintah Suriah terpaksa mengandalkan angkutan truk dan jalur darurat lainnya. Gandum dan logistik dibawa melalui jalan darat dengan biaya tinggi dan risiko besar, atau melalui pelabuhan dengan distribusi lokal yang sangat terbatas. Dalam situasi krisis, kereta dianggap sebagai sarana yang tidak realistis untuk dihidupkan.

Situasi mulai berubah ketika pemerintah Suriah kembali menguasai jalur tengah negara, terutama Homs, Hama, dan Aleppo. Stabilitas relatif di kawasan ini membuka peluang perbaikan infrastruktur rel yang sebelumnya rusak parah.

Krisis pangan yang berkepanjangan juga mendorong perubahan kebijakan. Gandum kembali dipandang sebagai prioritas nasional, sementara kereta api dinilai jauh lebih murah dan efisien dibandingkan angkutan truk. Dukungan teknis dari sekutu seperti Rusia dan Iran turut mempercepat proses rehabilitasi jalur kereta.

Kembalinya operasi kereta gandum ini bukan sekadar soal transportasi, tetapi juga membawa makna politik dan ekonomi. Pemerintah Suriah ingin menunjukkan pemulihan kendali negara, kebangkitan jalur ekonomi internal, serta upaya menekan biaya pangan di tengah tekanan krisis. Kereta yang kembali berjalan menjadi simbol bahwa negara perlahan berusaha bangkit dari dampak panjang perang.


Tidak ada komentar