Bagaimana Jika Iran Mengurangi Enam Nol untuk Rial Baru?
Nilai tukar rial Iran yang kini menembus kisaran 1,4 juta rial per dolar Amerika kembali memicu perdebatan serius soal masa depan mata uang nasional. Angka yang sangat besar ini dinilai tidak praktis, membingungkan masyarakat, dan mencerminkan krisis kepercayaan yang sudah berlangsung lama.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Iran bahkan lebih sering menggunakan toman dibanding rial resmi. Satu toman setara dengan sepuluh rial, sehingga kurs yang berlaku di pasar umum sering disebut sekitar 140 ribu toman per dolar. Kondisi ini menunjukkan jarak yang lebar antara aturan resmi dan realitas ekonomi.
Di tengah situasi tersebut, wacana pemotongan nol atau redenominasi kembali menguat. Salah satu skenario paling ekstrem yang dibahas adalah memotong enam nol agar nilai tukar menjadi jauh lebih sederhana dan mudah dipahami.
Dengan skema tersebut, 1 dolar Amerika akan setara dengan 1,4 rial baru. Angka ini dianggap lebih rasional secara psikologis dan administrasi dibandingkan jutaan rial seperti sekarang.
Secara matematis, pemotongan enam nol berarti 1.000.000 rial lama dikonversi menjadi 1 rial baru. Nilai uang secara riil tidak berubah, tetapi penyajiannya menjadi jauh lebih ringkas.
Langkah ini akan berdampak langsung pada seluruh sistem ekonomi. Gaji, harga barang, kontrak bisnis, laporan keuangan, hingga sistem perbankan harus disesuaikan secara menyeluruh.
Bagi masyarakat awam, perubahan ini berpotensi mengurangi kebingungan dalam transaksi sehari-hari. Harga roti, bahan bakar, dan kebutuhan pokok tidak lagi ditulis dengan deretan nol yang panjang.
Namun, para ekonom mengingatkan bahwa redenominasi bukan solusi tunggal. Tanpa pengendalian inflasi yang ketat, angka-angka besar bisa kembali muncul dalam beberapa tahun ke depan.
Pengalaman negara lain menjadi pelajaran penting. Venezuela dan Zimbabwe menunjukkan bahwa pemotongan nol tanpa stabilitas ekonomi hanya memberi efek kosmetik dan sementara.
Sebaliknya, Turki pada 2005 berhasil menghapus enam nol setelah inflasi benar-benar dikendalikan. Keberhasilan itu ditopang reformasi ekonomi yang konsisten dan disiplin fiskal yang kuat.
Dalam konteks Iran, tantangan tambahan datang dari sanksi internasional dan tekanan geopolitik. Faktor-faktor ini membuat stabilisasi ekonomi menjadi lebih sulit dibandingkan negara lain.
Karena itu, redenominasi enam nol akan menjadi keputusan politik sekaligus ekonomi yang sangat besar. Pemerintah harus memastikan dukungan publik dan kesiapan institusi negara.
Selain soal nilai, desain uang baru juga menjadi perbincangan. Pendekatan seperti Suriah, yang menonjolkan simbol institusional seperti bank sentral, dianggap paling aman secara politik.
Pemilihan simbol yang netral dinilai penting agar uang baru tidak memicu perdebatan ideologis atau identitas. Tujuannya adalah menegaskan stabilitas negara, bukan merayakan simbol tertentu.
Bagi pasar internasional, uang baru dengan desain institusional memberi pesan bahwa negara masih berfungsi normal meski berada di bawah tekanan ekonomi.
Dari sisi psikologis, rial baru dengan angka kecil bisa memulihkan sebagian kepercayaan masyarakat. Meski daya beli tidak langsung naik, persepsi stabilitas memiliki pengaruh besar.
Namun risiko kegagalan tetap ada. Jika inflasi tidak ditekan dan defisit anggaran terus melebar, redenominasi justru bisa memperburuk krisis kepercayaan.
Para pengamat menilai opsi yang lebih realistis adalah pemotongan bertahap, misalnya empat nol terlebih dahulu. Langkah ini memberi ruang evaluasi sebelum keputusan yang lebih ekstrem diambil.
Meski demikian, skenario enam nol tetap menjadi pembahasan serius di tengah memburuknya nilai tukar. Ini mencerminkan kedalaman masalah moneter yang dihadapi Iran.
Pada akhirnya, keberhasilan rial baru tidak ditentukan oleh jumlah nol yang dipotong. Faktor penentunya adalah stabilitas ekonomi, kepercayaan publik, dan kemampuan negara mengendalikan inflasi secara berkelanjutan.




Post a Comment